markethon

5 Front End Framework

Berikut adalah 5 front end framework terbaik berdasarkan rating yang diperoleh di Github:

1. Vue.js

Rating Github: 190 ribu bintang

front end framework vue js

Vue.js adalah front end framework dengan rating tertinggi di Github. Framework ini diluncurkan pada 2014 lalu oleh Evan You. Seseorang yang juga merupakan salah satu kreator framework Angular.

Vue.js adalah framework berjenis MVVM (Model-View ViewModel) yang dibangun di atas bahasa JavaScript. Front end framework yang satu ini punya aturan penulisan kode yang simpel, sehingga mudah digunakan oleh pemula.

Selain itu ukuran Vue.js juga tergolong kecil, hanya 18 KB saja! Meski begitu, kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. Karena, bisa digunakan untuk membangun web app, mobile app, hingga progressive web app (PWA).

Fitur-Fitur Unggulan Vue.js:

  • Virtual DOM (Document Object Model) – Tiruan dari Real DOM untuk menyimpan dan mereview perubahan kode sebelum menerapkannya di Real DOM.
  • Components – Membuat sekaligus mengelola elemen kustom dalam format HTML, nya sehingga dapat digunakan berulang-ulang.
  • Two-way Data Binding – Menjadikan setiap perubahan kode di JavaScript berpengaruh terhadap tampilan HTML, begitu pula sebaliknya.

Kelebihan Vue.js:

  • Dokumentasi yang lengkap dan detail.
  • Mudah digunakan untuk developer dengan keterampilan JavaScript.
  • Sangat fleksibel untuk merancang struktur aplikasi.
  • Mendukung TypeScript, bahasa pemrograman berbasis JavaScript.

Kekurangan Vue.js:

  • Komponen yang tersedia belum stabil.
  • Komunitas belum terlalu besar.
  • Kebanyakan plugin dan komponen ditulis dengan bahasa Mandarin sehingga sulit digunakan.

    2. React

    Rating Github: 178 ribu bintang

    front end framework react

    React adalah front end framework yang dibangun oleh raksasa teknologi dunia, Facebook (sekarang Meta) pada 2011 lalu. React merupakan framework open source di bawah lisensi software MIT.

    React sebenarnya bukan sebuah front end framework JavaScript murni, melainkan sebuah library. Pun demikian, ia tetap punya berbagai fitur layaknya sebuah framework, contohnya DOM.

    Di samping itu, React juga punya kinerja stabil. Hal tersebut membuatnya bisa diandalkan untuk membangun PWA dan SPA yang dipersiapkan untuk menampung banyak trafik.

    Fitur-Fitur Unggulan React:

    • Virtual DOM – Sama seperti Vue.js, React juga dibekali Virtual DOM yang berguna untuk menyimpan berbagai perubahan kode.
    • Libraries Integration – Menjadikan React bisa digunakan bersama dengan berbagai library berbasis JavaScript.
    • JSX (JavaScript XML) – Ekstensi sintaks JavaScript untuk memudahkan modifikasi DOM dengan kode berformat HTML.

    Kelebihan React:

    • Komponen bisa digunakan berulang-ulang di berbagai halaman aplikasi.
    • Kemudahan untuk menulis komponen tanpa perlu mengenalkan (deklarasi) Class-nya.
    • Menyediakan berbagai tools pengembang dengan fitur-fitur yang melimpah.

    Kekurangan React:

    • Dokumentasi yang berubah-ubah, mengingat frekuensi update yang terlalu sering.
    • Agak sulit dipelajari pemula karena JSX yang cenderung rumit.

    3. Angular

    Rating Github: 77 ribu bintang

    front end framework angular

    Selain React, ternyata ada lagi front end framework buatan raksasa teknologi lain. Framework yang dimaksud adalah Angular yang dikembangkan oleh Google sejak 2009 lalu.

    Mirip dengan React, Angular juga merupakan framework open source. Nah, front end framework yang satu ini berjenis MVC (Model View Controller) dan dibangun dengan bahasa TypeScript.

    Sayangnya, Angular punya aturan penulisan kode yang cukup rumit. Selain itu, ukurannya juga tergolong besar yakni 566 KB. Pun demikian, Angular terbukti handal untuk membangun web dan mobile app, PWA, hingga RIA (Rich Internet App).

    Fitur-Fitur Unggulan Angular:

    • Directives – Memudahkan developer untuk mengatur DOM sehingga bisa menghasilkan konten berformat HTML yang lebih dinamis.
    • Hierarchical Injections – Memudahkan pengelolaan komponen kode untuk keperluan pengujian atau penggunaan ulang.
    • Two-way Data Binding – Mirip dengan Vue.js, Angular menggunakan two-way data binding untuk kemudahan sinkronisasi antara Model dan View.

    Kelebihan Angular:

    • Setiap perubahan kode bisa ditampilkan hasilnya secara instan berkat adanya Two-way Data Binding.
    • Dapat menggunakan komponen secara berulang-ulang cukup dengan sekali menulis komponen.
    • Jumlah baris kode yang diperlukan untuk membangun aplikasi jadi lebih sedikit.
    • Dukungan resmi dari Google dan komunitas yang luas.

    Kekurangan Angular:

    • Agak sulit dipelajari oleh pemula, mengingat aturan penulisan kode yang cukup rumit.
    • Struktur aplikasi yang dihasilkan cenderung rumit, sehingga bisa menurunkan kinerja aplikasi.
    • Kemampuan SEO yang terbatas sehingga kurang SEO Friendly.

    4. jQuery

    Rating Github: 55 ribu bintang

    jquery

    jQuery adalah salah satu front end framework tertua yang dirilis sejak tahun 2006. Meski begitu, jQuery masih cukup relevan digunakan untuk membangun website, mobile app, dan desktop app.

    Sama seperti React, jQuery sebenarnya adalah library JavaScript dan bukan merupakan framework. Nah, jQuery punya fungsi utama yaitu untuk memanipulasi CSS dan DOM sehingga menghasilkan website yang lebih interaktif.

    Selain itu, jQuery juga menawarkan kemudahan penggunaan dengan memangkas aturan penulisan kode JavaScript menjadi lebih ringkas. jQuery juga didukung komunitas yang luas dan berpengalaman.

    Fitur-Fitur Unggulan jQuery:

    • Versatile Event Handling – Memangkas jumlah baris kode untuk perintah yang melibatkan aktivitas pengguna, seperti klik pada mouse.
    • jQuery Mobile – Framework HTML5 berbasis System-UI untuk memudahkan developer dalam membangun mobile app.
    • Browser Interchangeability – Mampu menjalankan berbagai fungsi di hampir semua browser tanpa mengalami kendala berarti.

    Kelebihan jQuery:

    • Mudah dipelajari dan digunakan oleh pemula karena penulisan kode yang simpel
    • Mendukung hampir semua browser yang ada di pasaran.
    • Menyediakan beragam pilihan plugin untuk menambah fiturnya.

    Kekurangan jQuery:

    • Ukuran yang tergolong besar, satu package jQuery terdiri atas semua komponen DOM, Events, Effects, dan AJAX.
    • Kinerja yang tergolong lambat, mengingat ukuran yang besar.
    • Tidak memiliki Data Layer, sehingga proses memanipulasi DOM jadi lebih rumit.

    5. Svelte

    Rating Github: 52 ribu bintang

    svelte

    Bertolak belakang dengan jQuery, Svelte adalah front end framework dengan usia paling muda yang ada di daftar ini. Sebab, Svelte baru diluncurkan pada 2016 lalu.

    Berbeda dengan yang lain, Svelte bukan merupakan framework maupun library, melainkan sebuah compiler. Nah, compiler yang satu ini berbasis JavaScript, HTML, dan CSS sekaligus.

    Meski menggabungkan tiga elemen, performanya tetap stabil. Bahkan, Svelte dianggap sebagai salah satu framework tercepat saat ini. Selain itu, ia juga tergolong ringan karena aturan penulisan kode yang cenderung ringkas.

    Fitur-Fitur Unggulan Svelte:

    • Modularity Principles – Mengelompokkan berbagai komponen lalu mengisolasinya sehingga memudahkan proses pengembangan aplikasi.
    • Boilerplate-free Coding – Menghasilkan modul secara seragam dalam bentuk Vanilla JavaScript dari komponen berformat HTML, CSS, dan JavaScript.

    Kelebihan Svelte:

    • Lebih ringan dan simpel karena bisa menggunakan Library JavaScript yang sudah ada.
    • Kinerja lebih cepat dibanding framework populer lain seperti React atau Angular.
    • Aturan kode yang minimalis sehingga proses pengembangan aplikasi lebih cepat.

    Kekurangan Svelte:

    • Dukungan komunitas yang minim dan belum berkembang
    • Tools pengembang yang tersedia masih sedikit.
    • Belum terlalu populer karena tergolong masih baru.

Sumber : https://www.niagahoster.co.id/

link lainnya : blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *